Nyala Api dan Petir Memancar Dari Tubuh Rasulullah

Nyala Api dan Petir Memancar Dari Tubuh Rasulullah

Nyala Api dan Petir Memancar Dari Tubuh Rasulullah

                Setiap nabi dan rasul itu memiliki mukjizat yang berbeda yang disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya dan kebutuhannya. Dan di antara para nabi dan rasul yang paling banyak memiliki mukjizat adalah Rasulullah saw, banyak para sahabat yang menyaksikan dengan mata kepala sendirii tentang kehebatan mukjizat Rasulullah saw, Banyak para sahabat yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kehebatan mukjizat rasulullah saw, baik di saat damai maupun ketika berada di medan pertempuran. Salah satu mukjizat beliau yang spektakuler adalah tubuhnya memancarkan nyala api dan petir sebagai tameng dari serangan awan yang hendak membunuhnya.
                Dikisahkan, pada saat rasulullah saw. Berangkat menuju ke medan perang Hunain, di antara yang ikut serta dalam pasukan kafir ada seorang lelaki yang bernama Syaibah bin Usman bin Talhah, yang ayah dan pamannya terbunuh dalam perang Uhud. Oleh karena itu, keikut sertaan Syaibah dalam perang hunain adalah untuk membalas dendam atas kematian bapak dan pamannya di perang Uhud.

                Sasaran utamnya adalah membunuh Rasulullah saw. Syaibah kemudian mengisahkan apa yang ia alami sendiri dalam perang hunain tersebut. Ia menceritakan, “ketika aku mengetahui Rasulullah saw. Turut serta dengan pasukan islam dalam Perang Hunain ini, aku pun ikut bergabung dengan pasukan kafir Quraisy menuju suku Hawazin, dengan harapan bila perang sudah berkecamuk, aku akan mencari kesempatan dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh Rasulullah saw. Dengan demikian, akulah orang yang dapat menyelesaikan balas dendamnya orang kafir Quraisy terhadap rasulullah saw. Rencana ini aku perhitungkan matang matang jangan sampai gagal. Pedang yang aku bawapun aku asah tajam tajam hingga nanti dapat sekali tebas kepala rasulullah saw. Langsung pisah dengan tubuhnya”

                “pada hari itu, demikianlah syaibah melanjutkan kisahnya, ketika perang sedang berkecamuk dengan hebatnya, aku terus mengintai gerak gerik rasulullah karena dialah sasaran utamaku. Akhirnya, tibalah saat yang aku tunggu tunggu. Ini merupakan peluang emas bagiku, di saat orang orang islam porak poranda dan bercerai berai oleh serangan gencar pasukan panah kaum kafir yang bertubi tubi sehingga keselamatan rasulullah saw. Tidak terlindungi oleh pasukannya. Maka, aku langsung menghunus pedangku sambil mendekati rasulullah saw tidak terlindungi oleh pasukannya. Maka, aku langsung menghunus pedangku sambil mendekati rasulullah saw. Tidak terlindungi oleh pasukannya. Maka aku langsung menghunus pedangku sambil mendekati rasulullah saw. Setelah dekat dengan beliau, serangan pun aku lancarkan kepadanya. Tiba Tiba, ada nyala api keluar dari tubuhnya laksana petir yang menyambar nyambar dan nyaris menyambar kulit wajahku. Melihat kejadian itu, aku langsung menutup wajahku dengan tangan karena rasa takut telah mencekam seluruh jiwaku.

                Untuk itu, aku langsung menghindarkan diri menjauhi rasulullah sejauh mungkin. Tidak begitu lama, aku mendengar Rasulullah saw. Memanggil diriku, “Wahai Syaibah, datanglah kemari.’ Aku pun datang kepada Nabi saw. Dengan perasaan takut.Setelah aku mendekat, beliau lalu meletakkan tangannya di dadaku, rupanya beliau mengerti kalau dadaku diliputi oleh perasaan takut dan gemetaran.Beliau mengusap usap dadaku, seraya berdo’a, “Ya Allah, Lindungilah dia dari bisikan setan.”

                Dari peristiwa itu, demi allah, pada saat itu juga tidak ada yang lebih dicintai oleh telinga, mata, dan saat segenap jiwaku kecuali beliau. Perasaan benci dan dendam kepadanya sirna dari dalam lubuk hatiku. Kemudian, Rasulullah saw. Berkata kepadaku, “mari ikut berjuang bersama kami.” Aku langsung berdiri tegak di hadapan beliau dan dengan pedang di tangan, aku melancarkan serangan balik menghantam teman temanku yang kafir yang memusuhi Rasulullah saw. Dan diriku ini lebih suka melindungi dan menjaga keselamatan Rasulullah saw. Dengan menggunakan tenagaku sendiri. Jika bapakku masih hdup dan memusuhi Rasullullah dan sahabat sahabatnya, maka tidak segan segan lagi aku akan menyerangnya dengan pedangku yang tajam ini,”


                Bila dianilisis dari peristiwa di atas, rasanya tidak mungkin terjadi manusia mampu mengeluarkan percikan api yang menyambar nyambar bagaikan petir dari tubuhnya. Akan tetapi, inilah kenyataan yang terjadi pada diri rasullullah saw. Dan inilah yang disebut dengan mukjizat.smbr.viosixwey.blogspot.co.id
Read More
Jelaskan pengertian iman kepada allah swt

Jelaskan pengertian iman kepada allah swt


IMAN
Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati, sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.
“Membenarkan dengan hati” maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
“Mengikrarkan dengan lisan” maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat “Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
“Mengamalkan dengan anggota badan” maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.
ISLAM
Islam secara umum pengertian iman kepada allah swt memiliki makna: Berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk serta patuh pada Allah dengan menjalankan ketaatan kepadanya dan berlepas diri dari perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik). Islam dengan makna yang umum ini adalah agama seluruh Nabi Rosul semenjak nabi Adam‘alaihi salam. Sehingga jika ditanyakan, apa agama nabi Adam, Nuh, Musa, Isa nabi dan Rosul lainnya? Maka jawabannya bahwa agama mereka adalah Islam dengan makna Islam secara umum sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Demikian juga agama para pengikut Nabi dan Rasul sebelum nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Islam dengan pengertian di atas, pengikut para Nabi dan Rasul terdahulu berserah diri pada Alah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan mengerjakan amal ketaatan sesuai dengan syariat yang dibawa oleh nabi dan Rasul yang mereka ikuti serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik. Agama pengikut nabi Nuh adalah Islam, agama pengikut nabi Musa pada zaman beliau adalah Islam, agama pengikut nabi Isa pada zaman beliau adalah Islam dan demikian pula agama pengikut nabi Muhammad pada zaman ini adalah Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
IHSAN
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ihsan ada 2 : dalam beribadah kepada Allah dan dalam hal hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam hal hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk terbagi 2 : wajib dan sunnah. Yang wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta melebihi batas kewajiban. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada anda, entah dengan ucapan atau perbuatannya (lihat Bahjat Al-Qulub Al-Abrar, hal. 168-169)
Suatu ketika malaikat Jibril dalam rupa seorang manusia datang kpd Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam & para shahabat utk mengajarkan tentang pokok-pokok ajaran agama, yaitu Islam, Iman & Ihsan. (Hadis Riwayat: Muslim).
Hadits tersebut kemudian dikenal dgn Hadits Jibril, sebuah hadits yg dipandang oleh para ulama mempunyai posisi yg sangat penting, karena mencakup semua amal baik lahir maupun batin serta menjadi referensi ajaran Islam.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ (أخرجه البخارى فى : كتاب الإيمان : 37 . باب سؤال جبريل النبي ص.م. عن الإيمان والإسلام). مسلم: عن الإيمان: 57. ابو داوود: سنة, 16. ترميذى: الإيمان, 4. ابن ماجه: مقدمة. 9 . احمد بن حنبل: 1,27,51, 19,29.
Musaddad telah menceritakan kpd kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kpd kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kpd kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada sesuatu hari ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki & bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “iman adl percaya Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, & pertemuannya dgn Allah, para Rasul-Nya & percaya pd hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “apakah Islam itu? Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam ialah menyembah kpd Allah & tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatu apapun, mendirikanshalat, menunaikan zakat yg difardhukan & berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kpd Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tdk mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. “Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah hari kiamat itu? “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “orang yg ditanya tdk lbh mengetahui daripada yg bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, & jika penggembala onta & ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk 5 perkara yg tdk dpt diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pd sisi-Nya sajalah yg mengetahui hari kiamat… (ayat).[1] Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kpd para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tdk melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Itu adl Malaikat Jibril a.s. yg datang utk mengajarkan agama kpd manusia.” (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah & Ahmad bin Hambal)
Read More
cara membersihkan hati dengan zikir

cara membersihkan hati dengan zikir


cara membersihkan hati dengan zikir Membersihkan hati dan menolak kehendak hawa nafsu yang keji itu fardlu ‘ain hukumnya. Akan tetapi, membersihkan hati itu sangat sukar karena penyakit hati (illat-illat) itu tidak terlihat oleh mata tetapi dapat ditangkap dengan hati. Untuk menandingi illat-illat tersebut harus ada Nur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera tetapi tertangkap oleh hati. Dengan Nur tersebut keluarlah manusia dari gelap gulita ke terang benderang dengan izin Tuhannya.

Cara kaum Sufi membuang penyakit hati tersebut adalah dengan riyadhah dan latihan-latihan yang antara lain meliputi bertaubat, membersihkan Tauhid, taqarrub kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, memperbanyak ibadah, qiyamul lail, tidak memakan/meminum makanan/minuman yang haram, tidak menghadiri tempat yang menambah nyala api hawa nafsu, tidak melihat pemandangan yang haram, dan menahan diri dari ajakan syahwat. Riyadhah dan latihan khusus kaum Sufi untuk membersihkan hati adalah dengan DZIKRULLAH, berdzikir dengan menyebut nama Allah. Hal ini dilandaskan pada Firman-firman Allah SWT dalam Al-Qur’an seperti:“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)- Ku.” (Al-Baqarah 152), “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak- banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”, “Adapun orang laki-laki yang banyak berdzikrullah, demikian juga orang-orang wanita, disedikan Allah baginya ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab 35), dan“(yaitu) orang-orang yang beriman dan dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikrullah. Ingatlah hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang” (Ar-Ra’d 28).

Landasan lain yang digunakan kaum Sufi adalah sabda-sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Bahwasanya hati itu itu kotor seperti besi yang berkarat dan pembersihnya adalah Dzikrullah”, “Bagi setiap sesuatu ada alat pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah “DZIKRULLAH”, dan “Jauhkanlah Syaithanmu itu dengan ucapan ‘LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH’, karena syaithan itu kesakitan dengan ucapan kalimat tersebut, sebagaimana kesakitan unta salah seorang kamu sebab banyaknya penunggang dan banjirnya muatan diatasnya”“Dzikir kepada Allah SWT, jadi benteng dari godaan syaithan”, dan “Allah berfirman ‘LAA ILAAHA ILLALLAH adalah bentengKu. Barang siapa mengucapkannya, masuklah ia kedalam bentengKu. Dan barang siapa masuk ke dalam bentengku, maka amanlah ia daripada azabKu.(Hadist Qudsi).”

Pengertian umum dzikir adalah mengingat Allah; dengan demikian, setiap ibadah (baik yang fardlu maupun sunnat) seperti sholat, zakat, puasa, haji, baca Qur’an, da’wah, belajar, berusaha, dll yang dilakukan semata atas nama Allah atau dengan mengingat Allah adalah dzikir. Akan tetapi disamping melaksanakan hal-hal tersebut, kaum Sufi melaksanakan Thariqat-dzikir secara khusus yang merupakan cara pembersihan ruh pada sisi Allah (hati) secara Sufi, yaitu dengan menyebut LAILAA HA ILLALLAH atau ALLAH baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dengan “cara tertentu.”
Penulis tidak dapat menyampaikan metode Dzikrullah tersebut oleh karena hanya Guru Sufi yang mursyid dan murid-muridnya yang telah diberi “ijazah”lah yang berwenang mengajarkan metode Tha- riqat-dzikir tersebut. Yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa para guru Sufi mengajar murid-muridnya mula-mula berdzikir dengan lidah (dzikir zahar, dzikir dengan suara keras), kemudian meningkat secara teratur kedzikir hati (dzikir khofi, dzikir yang tidak bersuara karena didalam hati) yang awalnya disengajakan kemudian menjadi kebiasaan, lantas meningkat lagi ke dzikir Sirri (dzikir di dalam hatinya hati). Hamba Allah yang sudah mampu berdzikir sirri ini tidak akan pernah terputus dzikirnya meskipun ia terlupa berdzikir. Sementara itu, sang guru pun membantu muridnya yang sedang dalam keadaan salik untuk menundukkan dan mengalahkan hawa nafsunya.

Ulama-ulama Sufi berkata: “Apabila murid-murid mengucapkan dzikir LAA ILAAHA ILLALLAH dengan memusatkan perhatiannya secara bulat kepadaNya, maka terbuka segala tingkat ajaran Thariqat dengan cepat, yang kadang-kadang terasa dalam tempo satu jam, yang tidak dapat dihasilkan dengan ucapan kalimat lain dalam tempo satu bulan atau lebih.” 

Dengan berdzikir yang dilakukan secara khusyu’ dengan bimbingan Guru Sufi yang mursyid, murid dapat membersihkan cermin hatinya dari sifat-sifat yang rendah secara dikit demi sedikit. Dalam masa itu, menyesallah sang murid atas dosa-dosa yang dilakukannya sehingga ia mencucurkan air mata dan berkehendak memperbaiki tingkah lakunya. Ia tidak rela untuk berada lagi dalam kelupaan dan kemaksiatan dengan mengikuti hawa nafsunya. Ia bertobat dan minta ampun dan mengikuti petunjuk Tuhannya. Maka cermin hatinyapun mulai dapat menerima dan memancarkan Nur Illahi yang kemudian merasuk keseluruh tubuhnya dan mempengaruhi segala ucapan, tingkah laku, dan perbuatannya dengan segala keutamaan.samsulacehtamiang.blogspot.co.id
Read More
amalan membersihkan hati dan jiwa

amalan membersihkan hati dan jiwa

Jika kita menatap kehidupan manusia sekarang ini, maka hati kita akan pilu. Mereka kebanyakan adalah manusia sipil, tetapi berkarakter militer. Mereka manusia yang sehat secara fisik tetapi ruhaninya sakit. Mereka memproklamirkan dirinya sebagai makhluk modern, tetapi miskin adab dan cenderung primitif.
Merekalah makhluk yang tidak utuh, terbelah jiwanya (split personality), serta tidak pandai menjalani kehidupan ini secara seimbang. Mereka mamandang agama hanya sebatas pencuci dosa, bukan pencegah dari perbuatan yang fahsya’ dan munkar.
Di satu sisi mereka rajin berdoa di masjid, tapi setelah keluar dari masjid mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi dosanya.
Mereka adalah manusia sekuler, menceraikan makhluk dari al-Khaliq. Mereka membuat dikotomi-dikotomi, memisahkan ranah ruhani dan jasmani, ritual dan sosial, akal dan iman, dunia dan akhirat, serta jiwa dan raga.
Allah ta’ala berfirman:
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Al-Baqarah [2]: 10)
Para mufassir menjelaskan bahwa penyakit yang dimaksud dalam ayat itu adalah keyakinan mereka terhadap kebenaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri hati, serta dendam terhadap Nabi Shalallahu alaihi wassalam dan orang-orangIslam.
Agar struktur ruhani dan mata hati seseorang tetap tajam untuk melihat kesejatian, berikut kiat-kiatnya:
1.       Mengubah cara memandang Tuhan, diri sendiri (susunan fisik dan ruhani), misi kehadirannya di dunia, dan alam.
Ini merupakan langkah dasar dalam rangka mentauhidkan-Nya, yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadahnya kepada-Nya dan membebaskan diri dari segala bentuk perhambaan kepada selain-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat [51]: 56)

2.       Berinteraksi secara intensif dengan al-Qur’an dan mengahayati maknanya.
Allah ta’ala berfirman:
Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al-Maidah [5]: 16)
3.       Banyak berzikir ketika berada di keramaian maupun sendirian.
Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap hamba pasti membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk menyendiri dalam memanjatkan doa, berzikir, shalat, merenung, berinstropeksi diri, dan memperbaiki hatinya,” (dinukil dari Kaifa Tatahammasu, halaman 13).
Ibnu Taimiyah juga berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Maka apakah yang akan terjadi apabila seekor ikan telah dipisahkan dari dalam air?” (Lihat al-Wabil ash-Shayyib).
Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri, “Aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka beliau menasehatinya, “Lembutkanlah ia dengan berzikir.”
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan oleh perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan ketekunan berzikir kepada-Nya,” (lihat al-Fawa’id,halaman 95).
Allah ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Al-Ahzab [33]: 41)
Dengan banyak berzikir akan timbul perasaan takut kepada Allah dan berusaha untuk senantiasa menghadirkan-Nya di mana pun kita berada. Dampak selanjutnya akan lahir kesadaran untuk banyak bertaubat dan beristighfar kepada Allah demi menghapus dosa-dosa yang diikuti dengan meninggalkan perbuatan dosa, maksiat, dan penyimpangan.
4.       Mengembara ke akhirat dan mengingat kematian.
Mata hati akan selalu jernih dan tajam ketika selalu diajak mengembara ke alam akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana dan merasa seperti telah menjadi penghuninya.
Adapun keberadaannya di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing yang mengambil sekada keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke akhirat sebagai negeri asalnya.
Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan,” (Riwayat Bukhari).
Hamra al-Qushairi berkata, “Kita semua yakin dengan datangnya maut, namun kita tidak dapat mempersiapkan diri. Kita semua yakin akan surga, namun kita tidak beramal, dan kita semua yakin akan adanya neraka, naum kita tidak merasa takut kepadanya. Maka atas dasar apa kita bersuka ria?”
5.       Rajin melakukan shalat malam
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Tetaplah kalian melakukan shalat malam. Sebab shalat malam merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus kejahatan, mengusir penyakit dari adan (Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakimdan al-Baihaqi)
6.       Berkumpul dengan orang-orang saleh.
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang yang lurus, dalam firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah [9]: 119)
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam juga bersabda, “Seseorang itu bergantung agama sahabatnya, maka perhatikan kepada siapa ia menjalin pertemanan,” (Riwayat at-Tirmidzi).
Adapun antara ciri orang yang saleh adalah taat dan kontinyu beramal saleh serta selalu berusaha mengikhlaskannya, menyibukkan diri dengan kelemahan dirinya sendiri, tidak sibuk dengan aib orang lain, beramar ma’ruf nahi munkar,memperhatikan umat Islam, dan bersemangat dalam menghadapi permasalahan umat.
7.       Banyak bermuhasabah
Muhasabah ialah menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan.
Nasehat Umar al-Faruq, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk perrtunjukkan yang agung (hari Kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan yang tiada tersembunyi dari amal kalian barang satu pun.”
Muhasabah adalah indikator penting ketaqwaan seseorang. Allah ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al-Hasyr [59]: 18)
Wallahu a’lam bish-shawab.***
Kajian Utama Majalah Suara Hidayatullah (Sahid) edisi April 2012/Jumadil Awwal 1433

sabilurasyad.wordpress.com
Read More